www.kicokro.my.id

Tampilkan postingan dengan label JEJAK PUSAKA NUSANTARA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JEJAK PUSAKA NUSANTARA. Tampilkan semua postingan

Pusaka Keris Kyai Brojol

 

Keris pusaka Kyai Brojol,Merupakan salah satu keris paling ampuh, unik cantik dan menawan. Bentuknya sangat elegan, siapa saja yang melihatnya pasti tergoda untuk memegang bahkan seraya ingin memilikinya. Kekuatan energi besarnya sangat terasa, dimana keris ini mempunyai energi khodam yang sangat kuat auranya. Dalam ceritanya, Pusaka Keris Kyai Brojol ini memiiliki kempuan yang luar biasa. Sekarang Pusaka Keris Kyai Brojol tersebut di miliki oleh tokoh spiritual Gus Cokro STMenurutnya, ia mendapatkan pusaka tersebut saat melakukan tirakat khusus di Sitihinggil, Kraton Surakarta Hadiningrat.
Konon, menurut Gus Cokro ST, saat mendapatkan keris pusaka ini bukan serta merta secara cuma-cuma. Gus Cokro ST harus mengeluarkan segala daya kekuatan yang ada dalam dirinya, dan meyiapkan uborampe yang harus dipersiapkan. Hal ini dilakukannya agar supaya benda pusaka yang ia inginkan bisa muncul dan didapatkannya. Menurutnya, prosesi penarikan benda pusaka keris Kyai Brojol ini memakan waktu tak kurang dari 45 menit.
Dalam kisah Penarikan benda Ghaib ini Gus Cokro ST awalnya cukup banyak mengalami kesulitan, dimana Keris Kyai Brojol sangat sulit ditarik. Karena, pusaka yang dimaksud tersebut berada di dalam kekuasaan penguasa alam gaib, dan penguasa gaib tersebut berusaha sekuat tenaga mempertahankan pusaka keris Kyai Brojol. Tentunya Gus Cokro ST  harus mengeluarkan tenaga dalamnya tiga kali lipat. Namun berkat usaha keras, kejelian dan kecerdasan beliau akhirnya Keris Kyai Brojol bisa ditarik dan diwujudkan ke alam nyata.
Keris pusaka Kyai Brojol ini kekuatannya sangat besar. Waktu pertama kali dipegang oleh Gus Cokro ST saja energinya ingin menyedot tenaga dalam diri Gus Cokro STnamun beliau tidak khawatir, karena dengan sigap beliau mampu mengendalikan energi khodam pusaka tersebut. Pusaka ini sudah berumur ratusan tahun. Energi khodamnya mampu menghancurkan serta meleburkan segala kebatilan dan memunculkan aura pengasih bagi pemiliknya. 
Dan tidak semua orang mampu memiliki pusaka ini. Pusaka ampuh ini memiliki sifat berjodohan dengan pemiliknya, jika Anda berjodoh maka Anda bisa mengendalikan dan berakibat baik pada Anda. Sebaliknya jika tidak berjodoh maka Anda akan kalah en

ergi, energi diri Anda akan tersedot, bahkan dengan sendirinya pusaka ini akan pergi meninggalkan Anda. Namun yang perlu digaris bawahi adalah orang yang berjodoh dengan pusaka ampuh ini menurut Gus Cokro ST adalah orang yang baik atau lebih jelasnya dekat dengan Tuhan. Hanya untuk kebaikan bukan untuk kejahatan.

Bagi siapa saja yang memiliki Pusaka Keris Kyai Brojol ini, maka dalam dirinya akan memiliki batin yang kuat, memancarkan pesona positif, memperlancar urusan bisnis dan menguatkan daya pikat (pengasihan), Dapat terhindar dari pengaruh niat jahat, terhalang usaha penipuan, kejahatan, gendam, pagar diri, rumah dan tempat usaha. Bahkan cocok dimiliki oleh seseorang yang hendak  terjun dalam kancah politik, pilkada, pilgub, pilkades, pilbub dan cocok untuk peganngan TNI/Polri dll.

Untuk itu, jika Anda mempunyai keris ini usahakan selalu berbuat baik, rawatlah secara rutin dengan baik, maka keistimewaan lain seperti kerezekian dan lainnya akan Anda rasakan melalui pusaka ini.
Tetapi yang perlu diingat adalah tuahnya Keris Kyai Brojol ini tergantung keyakinan dan kepercayan pemiliknya. Gus Cokro ST mengatakan, bahwa semua sarana bisa dimanfaatkan tergantung yang memilikinya, namun dia juga kembali mengingatkan bahwa semua bisa terwujud hanya atas ijin Tuhan YME.
Keris pusaka Kyai Brojol, kini, Koleksi Pribadi Gus Cokro ST, siap dimaharkan kepada pribadi yang terpilih.

Kawruh Seks Raja-raja Jawa

 

Ilmu atau kawruh tentang seks memang selalu manarik perhatian. Bahkan lebih menarik dari cuwitan galau yang akhir-akhir ini ini memenuhi pemberitaan media. Namun kita harus akui, sebagai masyarakat dengan adat ketimuran, seks adalah hal yang tabu untuk diperbincangkan. Ya, kesan wagu (tabu) memang melekat dengan kata seks ini.

Kita terkadang gamang untuk berbicara tentang seks, apalagi sampai menulisnya secara lugas, gamblang dan terbuka. Kita khawatir dituding tak tahu diri, atau sengaja menyebarluaskan pemahaman tentang seks, yang oleh sebagian masyarakat dipandang sebagai sesuatu yang tabu. 

Dalam banyak literasi, pengertian seks jika dibatasi alat kelamin semata, tentu sangat dangkal. Karena hal ini menafikan kenyataan-kenyataan fisiologis sebagaimana ditelanjangi dalam buku-buku ilmiah kedokteran. Pun sebaliknya, jika hanya diartikan sebagai persetubuhan saja, tentu juga naif, karena akan mengesampingkan realita cumbu rayu, ransangan-ragsangan pada daerah erotis, mantra-mantra seksual dan cinta kasih.
  
Serat Centhini bisa jadi adalah satu-satunya manuskrip kuno karya asli orang Indonesia yang secara gamblang menguraikan tentang berbagai aspek dan dimensi seks. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Serat Centhini adalah manuskrip Kamasutra versi Jawa. Manuskrip ini mulai ditulis pada Januari 1814 oleh tim pengarang Keraton Surakarta yang terdiri dari Adipati Anom Amengkunegara atau Paku Buwana V, Ki Ngabehi Rangga Sutrasna, Ki Ngabehi Yasadipura II dan Ki Ngabehi Sastradipura, pada masa pemerintahan Paku Buwana IV (1788-1820).

Ya,tidak berlebihan kiranya jika kita membincang perilaku sosial dan budaya Jawa, khususnya urusan seks, sepertinya tidak lengkap bila tidak menyimak Serat Centhini terlebih dulu. Di jamannya, Serat Centhini termasuk dalam karya tulisan yang berani dan mengungkap persoalan secara gamblang serta apa adanya. Menariknya lagi, penulis atau penggubahnya adalah seorang bangsawan.

Para pemikir atau intelektual Jawa di jamannya dulu memang sudah menanam keyakinan bahwa seks merupakan salah satu bagian dari budaya kehidupan manusia. Seks adalah sesuatu yang logis dan alamiah. Sejak dulu juga, para pemikir Jawa sudah memandang dan berpendapat bahwa seks atau seni bercinta sebagai bagian dari harmoni kehidupan manusia yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Karena itulah banyak para pemikir atau intelektual Jawa di masa lalu yang menulis 'beragam pengetahuan dan persoalan' tentang seks. Serat Centhini merupakan salah satu di antaranya. Kemudian pemberian pemahaman tentang seks juga terdapat di dalam Serat Gatoloco dan Serat Dharmogandhul.

Persoalan seks yang sangat pribadi pun diungkap secara terbuka, terang benderan jika kita meminjam bahasa politisi jaman sekarang, dan tanpa basa-basi di dalam Serat Centhini. Hebatnya lagi, persoalan seks yang diungkap tak sebatas yang ada pada kehidupan masyarakat kecil atau rakyat jelata, tapi juga yang terjadi di lingkungan istana atau para bangsawan di keraton Jawa.

Dalam Serat Centhini masalah seksual menjadi tema sentral yang diungkap secara verbal tanpa tedeng aling aling, paradoksal dengan etika sosial Jawa yang dikenal puritan dan ortodoks. Masalah seks dibicarakan dalam berbagai versi dan kasus, seperti, menyangkut pengertian, sifat, kedudukan, fungsi, etika dan tata cara bermain seks, dan gaya persetubuhan.

Seks juga dibicarakan dalam banyak varian lainnya, misalnya, hubungan seks dengan perkawinan, seks dengan kesetiaan suami-istri, seks dengan pengobatan, seks dengan pemerkosaan, seks dengan pelampiasan hasrat-hasrat hedonis, seks dengan asal usul kehidupan dan ilmu kasunyatan.

Seks sebagai ekspresi pelampiasan hasrat-hasrat hedonis, dalam pandangan Jawa, berlaku agregrasi atau bentuk hubungan antara kecantikan perempuan dengan kewibawaan lelaki yang bersifat politis. Kecantikan juga dipandang sebagai lelangen, bahkan berlaku asumsi, jika raja semakin banyak memiliki istri yang cantik, maka semakin meningkatlah derajat kewibawaannya.

Hal ini juga tersurat dalam Serat Cemporet karya R. Ngabehi Ranggawarsita, pujangga keraton Surakarta pada masa pemerintahan Paku Buwana V hingga Paku Buwana IX, disebutkan bahwa bagi bangsawan luhur, perempuan merupakan lelangen (hiasan), tanpa memilih atau melihat-lihat dari mana asal usul silsilah keturunannya, asalkan perempuan itu memiliki kecantikan yang hebat, ia akan dapat menambah kawibawan (kewibawaan) lelaki.

Aspek penampilan luar (fisik) yang bersifat genital pada tubuh perempuan juga menjadi fokus perhatian yang lebih selain penampilan nonfisik. Hal seperti ini juga tampak pada budaya katuranggan yang sedemikian konkret mengapresiasi wacana ketubuhan.


Budaya katuranggan, misalnya, bisa ditemukan dalam tradisi gemblak pada kultur warok Ponoragan. Gemblak adalah lelaki yang berperilaku layaknya seorang wanita yang lemah gemulai (baca: transgender) dan menjadi patner sang warok dalam bercinta.

Adapun aspek nonfisik menjadi fokus perhatian, misalnya, dalam urusan memilih istri. Dalam pandangan Jawa, istri yang baik harus berwatak;

Sama, memiliki welas asih kepada sesama;

Beda, mampu memilah apa yang lebih penting yang hendak dilakukan;
Dana, suka memberi kesenangan kepada sesama;

Dhendha, mampu menilai yang baik dan buruk atas dasar empan-empan (tempat, keadaan, situasi, dan kondisi);

Guna, mengerti wewenang dan kewajiban terhadap seluruh kegiatan yang berhubungan dengan perempuan;

Busana, mengetahui dan menerapkan semua yang dimiliki sesuai maksud dan situasi;

Asana, bisa menata dan memelihara rumah agar tampak baik dan menyenangkan hati;

Sawandana, mampu menyelaraskan keinginan lahir dan batin, dalam meladeni suami seperti meladeni diri sendiri;

Saekapraya, mampu menyelaraskan keinginan diri sendiri dengan keinginan suaminya; dan
Sajiwa, memiliki kesetiaan kepada suami seperti kesetiaan kepada dirinya sendiri. Terminologi lain yang juga dipakai ialah bobot, bibit dan bebet.

Ajaran bercinta dalam pandangan Jawa meliputi;
Asmaranala atau sengseming nala, dua insan yang bercinta hendaknya dilandasi oleh cinta kasih yang tumbuh dalam hati;

Asmaratura atau sengseming pandulu, dua insan yang becinta hendaknya dilandasi oleh rasa saling ketertarikan kepada kecantikan dan ketampanan pasangannya;

Asmaraturida atau sengseming pamirengan, dua insan yang bercinta hendaknya larut dalam sendagurau mesra;

Asamaradana atau sengseming pocapan, bahwa syair, puisi dan kata-kata indah -pujian terhadap kekasihnya- hendaknya dilantunkan oleh sepasang kekasih untuk menumbuhkan cinta kasih agar semakin bergelora;

Asmaratantra atau sengseming pangarasan, bahwa ciuman merupakan mantik birahi yang dahsyat, karenanya sepasang kekasih yang bercinta hendaknya mempelajari teknik-teknik berciuman;

Asmaragama atau sengseming salulut, bahwa puncak dari karonsih (bercinta) adalah salulut, yaitu masuknya penis kedalam vagina, untuk itu perlu dipastikan kesiapan masing-masing agar mampu memberikan kenikmatan paripurna.

Dalam kitab klasik Jawa, unsur laki-laki dipandang sebagai upaya atau alat mencapai kebenaran yang agung. Sedang wanita merupakan prajna atau kemahiran yang membebaskan. Oleh karena itu persetubuhan dipahami sebagai bakti seorang istri kepada suaminya, dan merupakan kewajiban seorang suami terhadap istrinya.


Puncak ajaran serta penghayatan seks dalam tradisi Jawa, sebagaimana tersebut dalam Serat Centhini pupuh asmaradana, untuk mengetahui asal usul kamanusiaan dan tujuan kesempurnaan hidup manusia.

Hal yang sama juga terdapat dalam Serat Gatholoco, bahwa seks merupakan penyatuan antara dua oposisi yang sebenarnya adalah pasangan binernya, baik pasangan dalam mikrokosmos, makromosmos maupun metakosmos. Semua pasangan biner menyatu dalam satu kesatuan yang harmonis. Karenanya, yang laki-laki dan yang perempuan akhirnya harus melebur manjadi satu kesatuan. Inilah harmoni total.

Akhirnya, tidak bisa dipungkiri bahwa Serat Centhini adalah manuskrip Kamasutra versi Jawa, juga paling lengkap karena mengupas seks dari berbagai aspek dan dimesinya. Bahkan, tidak berlebihan jika kita katakan bahwa Serat Centhini merupakan pelajaran seks dari Raja Jawa.  


Keris Pusaka Sakti Singo Barong

 

Pusaka keris bertuah Tejo Kinurung ini tak begitu terkenal didunia manusia, tetapi jika kita ditelusuri lewat dunia spiritual, keris bertuah ini sangat terkenal didunia astral.  Bahkan, konon,  banyak mahluk-mahluk halus yang ingin mendampingi keris pusaka tersebut 

kemanapun perginya. Keris ini memang asli warisan dari Kerajaan Kuno Padjajaran. Pembuatan  pusaka keris ampuh ini disinyalir sejak era Kerajaan Padjajaran, yakni, abad ke 13. Dengan adanya hal tersebut, pantaslah  apabila keris pusaka Tejo Kinurung  ini tidak begitu terkenal didunia manusia  karena usia pembuatannya yang terbilang cukup  lama atau kuno. 

Sementara menurut pemilik pusaka bertuah Tejo Kinurung, Gus Cokro ST, seorang tokoh spiritual Indonesia, menjelaskan bahwa, hal  mengenai sisi dunia gaib-nya, pusaka keris bertuah ini mempunyai kekuatan tingkat tinggi  dan jika digunakan akan memiliki pengaruh yang sangat ekstra cepat, kuat  dan singkat. “Pusaka keris Tejo Kinurung ini memiliki kekuatan  luar biasa karena memiliki pengaruhi oleh satu sosok mahluk gaib yang selalu mendampinginya setiap saat, yaitu mahluk yang berwujud seorang pria tua,” kata Gus Cokro STmenjelaskan perihal Pusaka Keris Tejo Kinurung ini.

Pusaka Keris Tejo Kinurung, memiliki ciri-ciri: Dapur/bentuk: Tilam Upih, Pamor/Lambang/Filosofi: Tejo Kinurung. Tangguh/Era Pembuatan//Estimasi: Kerajaan Pajajaran, tahun pembuatan abad 13. Bilah Pusaka: Lurus, panjang seluruh keris 40 Cm.



Menurut Gus Cokro ST, Keris Pusaka Ampuh Tejo Kinurung beliau peroleh pada tahun 1999 . Pada saat itu ia sengaja  melakukan perjalanan spiritualnya, di petilasan Ciung Wanara. Menurutnya di tempat itulah Gus Cokro ST melakukan laku spiritual selama tiga hari tiga malam. Pada hari terakhir ritualnya itulah Gus Cokro ST mendapatkan pusaka Keris Tejo Kinurung. Keris Tejo Kinurung memiliki gaya Warangka Gayaman Surakarta, Kayu Timoho dan pusaka tersebut tergolong kuno atau sepuh.

Berdasarkan pendeteksian secara spiritual, Keris Pusaka yang saat ini berada di tangannya memiliki yoni/ tuah/manfaat: Memiliki tuah yang sangat baik untuk semua orang, terutama pegawai negeri, pejabat Negara atau mereka yang bekerja pada perusahaan bisa juga sebagai pemimpin orang banyak, juga tuah pusaka keris ini dapat menunjang karier pemiliknya untuk sebuah jabatan yang langgeng. Oleh sebab itu, banyak pejabat sekarang yang memiliki keris berpamor Tejo Kinurung.

Kini Keris Keris Tejo Kinurung menjadi koleksi pribadi Gus Cokro ST, dan siap dimaharkan kepada siosok pribadi yang cocok dan terpilih.

Menyimak Kehebatan Tuah Keris Pusaka Tejo Kinurung

 

Pusaka keris bertuah Tejo Kinurung ini tak begitu terkenal didunia manusia, tetapi jika kita ditelusuri lewat dunia spiritual, keris bertuah ini sangat terkenal didunia astral.  Bahkan, konon,  banyak mahluk-mahluk halus yang ingin mendampingi keris pusaka tersebut 

kemanapun perginya. Keris ini memang asli warisan dari Kerajaan Kuno Padjajaran. Pembuatan  pusaka keris ampuh ini disinyalir sejak era Kerajaan Padjajaran, yakni, abad ke 13. Dengan adanya hal tersebut, pantaslah  apabila keris pusaka Tejo Kinurung  ini tidak begitu terkenal didunia manusia  karena usia pembuatannya yang terbilang cukup  lama atau kuno. 

Sementara menurut pemilik pusaka bertuah Tejo Kinurung, Gus Cokro ST, seorang tokoh spiritual Indonesia, menjelaskan bahwa, hal  mengenai sisi dunia gaib-nya, pusaka keris bertuah ini mempunyai kekuatan tingkat tinggi  dan jika digunakan akan memiliki pengaruh yang sangat ekstra cepat, kuat  dan singkat. “Pusaka keris Tejo Kinurung ini memiliki kekuatan  luar biasa karena memiliki pengaruhi oleh satu sosok mahluk gaib yang selalu mendampinginya setiap saat, yaitu mahluk yang berwujud seorang pria tua,” kata Gus Cokro STmenjelaskan perihal Pusaka Keris Tejo Kinurung ini.

Pusaka Keris Tejo Kinurung, memiliki ciri-ciri: Dapur/bentuk: Tilam Upih, Pamor/Lambang/Filosofi: Tejo Kinurung. Tangguh/Era Pembuatan//Estimasi: Kerajaan Pajajaran, tahun pembuatan abad 13. Bilah Pusaka: Lurus, panjang seluruh keris 40 Cm.



Menurut Gus Cokro ST, Keris Pusaka Ampuh Tejo Kinurung beliau peroleh pada tahun 1999 . Pada saat itu ia sengaja  melakukan perjalanan spiritualnya, di petilasan Ciung Wanara. Menurutnya di tempat itulah Gus Cokro ST melakukan laku spiritual selama tiga hari tiga malam. Pada hari terakhir ritualnya itulah Gus Cokro ST mendapatkan pusaka Keris Tejo Kinurung. Keris Tejo Kinurung memiliki gaya Warangka Gayaman Surakarta, Kayu Timoho dan pusaka tersebut tergolong kuno atau sepuh.

Berdasarkan pendeteksian secara spiritual, Keris Pusaka yang saat ini berada di tangannya memiliki yoni/ tuah/manfaat: Memiliki tuah yang sangat baik untuk semua orang, terutama pegawai negeri, pejabat Negara atau mereka yang bekerja pada perusahaan bisa juga sebagai pemimpin orang banyak, juga tuah pusaka keris ini dapat menunjang karier pemiliknya untuk sebuah jabatan yang langgeng. Oleh sebab itu, banyak pejabat sekarang yang memiliki keris berpamor Tejo Kinurung.

Kini Keris Keris Tejo Kinurung menjadi koleksi pribadi Gus Cokro ST, dan siap dimaharkan kepada siosok pribadi yang cocok dan terpilih.

Mitos Kembang Wijayakusuma dan Misteri Pulau Majeti

 

Kembang Wijayakusuma  berasal dari 
dua kata Jawa. Wijaya berarti “menang”, dan Kusuma berarti “bunga”. Secara sederhana bisa diartikan sebagai bunga kemenangan. Baik, mari kita kaji dari segi ilmiah dan mitos yang menyungkupi bunga yang di yakini kembangnya raja-raja ini.

Epiphyllum anguliger begitulah nama latin dari bunga yang masuk dalam marga kaktus atau yang lebih familiar kita mengenalnya Kembang Wijayakusuma. Seprti galibnya kaktus yang bisa tumbuh subur di daerah sedang samapi tropis, pun halnya demikian juga dengan Kembang Wijayakusuma. Bunga satu ini tergolong bunga yang aneh dan sarat misteri. Ketika mekar bungannya semerbak mewangi. Selain itu, bunga ini hanya mau mekar pada malam hari saja, itupun hanya sesaat kemudian melayu. Dan satu hal lagi tidak semua Kemabang Wijayakusuma dapat berbunga dengan mudah.

Kembang ini dapat dilihat dengan jelas mana bagian daun dan mana bagian batangnya, setelah berumur tua. Batang pohon Wijayakusuma sebenarnya terbentuk dari helaian daun yang mengeras dan mengecil. Saat masih muda warna daunnya kuning lembut. Helaian daunnya pipih, berwarna hijau dengan permukaan daun halus tidak berduri. Pada setiap tepian daun Wijayakusuma terdapat lekukan-lekukan yang ditumbuhi tunas daun atau bunga.

Bunga yang tumbuh di karang ini, selain ada di Nusakambangan yang dikeramatkan itu, banyak pula terdapat di pulau Karimunjawa, Kepulauan Seribu, Bali dan Madura. Bunga ini berasal dari daratan Amerika Selatan, kemudian masuk ke Cina dan baru ke Indonesia di jaman Majapahit. Nah yang menarik, mitosnya pada sebagian masyarakat Jawa, ada kepercayaan bahwa barang siapa yang mempu melihat mekarnya bunga Wijayakusuma, maka hidupnya tidak akan susah.

Berkait erat dengan Kembang Wijayakusuma ini, ada kepercayaan yang tak lekang oleh waktu. Iya, bahwa raja Mataram yang baru dinobatkan, tidak akan sah diakui dunia “kasar” dan “halus”, kalau belum berhasil memetik bunga Wijayakusuma sebagai pusaka keraton.


Mengapa harus memetik bunga itu? Tradisi memetik bunga itu didasarkan atas kepercayaan, bahwa pohon yang menghasilkan bunga itu adalah jelmaan pusaka keraton Batara Kresna. Batara titisan Wisnu ini kebetulan menjadi Raja Dwarawati.  Dalam satu legenda menyebutkan, pusaka keraton itu dilabuh (dihanyutkan) ke Laut Kidul oleh Kresna, sebelum beliau mangkat ke Swargaloka, di kawasan Nirwana. Pusaka atribut Raja Kresna itu setelah dilabuh menjadi pohon di atas batu pulau karang. Letaknya di ujung timur Pulau Nusakambangan di selatan Kota Cilacap.

Dalam tradisi Mataram misalnya, meski tidak terserat namun diamini oleh sebagian besar masyarakat Jawa, bahwa raja-raja Mataram (yang sudah dinobatkan) tidak akan sah diakui dunia “kasar” dan “halus” jika belum memetik bunga Wijayakusuma. Dalam konteks kekinian, hal ini terdengar sepele. Namun bila direnungkan lagi, ternyata ada nilai-nilai tersembunyi di balik keyakinan itu.

Bahwa seorang raja yang sanggup memetik bunga Wijayakusuma, dipastikan ia adalah seorang yang mentalnya tergembleng dengan baik. Sebab untuk dapat memetik bunga Wijayakusuma dalam keadaan mekar, seseorang harus memiliki kesabaran tinggi. Bunga Wijayakusuma hanya akan mekar sesaat dan waktunya pada malam hari saja.

Dan mekarnya kelopak bunga misterius ini tidak dapat diperkirakan waktunya. Belum tentu dalam setahun bunga ini akan mekar. Maka, seorang raja yang berhasil memetik bunga ini, berarti dia telah melewati penantian yang panjang dengan penuh kesabaran dan perjuangan yang berat. Sebab ia tidak tumbuh disembarang tempat.

Ada beberapa tempat di Cilacap yang dari zaman Kerajaan Mataram hingga Orde Baru berkuasa, secara berkala disambangi para petinggi negara, terutama bila mereka tengah menghadapi persoalan berat. Tempat-tempat ini sangat dikeramatkan. Para pejabat itu kadang datang sendiri secara diam-diam, namun terkadang menyuruh utusan.

Di lokasi keramat Jambe Pitu dan Jambe Lima di sebuah bukit di Srandil, Kec. Adipala atau sekitar 15 km arah timur Kota Cilacap, serta Gua Masigit Selo dan Pulau Majeti, Nusakambangan, mereka bersemadi mengharap wahyu yang berisi petunjuk untuk menyelesaikan persoaannya. Di pulau Majeti, Nusakambangan inilah bunga Wijayakusuma tumbuh.

Kisah kesaktian bunga Wijayakusuma sendiri tercatat dalam Babad Tanah Jawa. Tidak hanya raja-raja Mataram yang wajib mendapatkan pusaka itu agar singgasananya langgeng. Namun sebelumnya, keturunan Majapahit pun mencari bunga ini. Keberadaan bunga Wijayakusuma, kecuali di lokasi terpencil dan terjal, juga dijaga pasukan gaib yang bermarkas di Jambe Pitu dan Jambe Lima.

Itulah sebabnya, tidak sembarang orang bisa ke sana, apalagi mendapatkan bunga itu. Hanya orang-orang tertentu dan memiliki kelebihan khusus yang bisa mendapatkannya. Pada jaman raja-raja Mataram dulu, untuk bisa memperoleh bunga Wijayakusuma ini harus memenuhi beberapa persyaratan.

Konon, Jaman dahulu kala di daerah Jawa Timur (Kediri) ada MahaRaja yang menyandang gelar Prabu Aji Pramosa. Raja tersebut memiliki watak keras, beliau pantang tunduk kepada siapapun. Raja tersebut tidak suka setiap ada orang di negaranya yang kelihatan menonjol atau mempunyai pengaruh. Petugas sandi (intel) Kerajaan disebarkan di setiap penjuru kerajaan dan akhirnya ada laporan bahwa di dalam kerajaan tersebut ada “Resi” yang sudah terkenal karena kesaktiannya. Resi tersebut bernama Resi Kano, yang bergelar “Kyai jamur”.

Kesaktian Kyai Jamur akhirnya terdengar di telinga Raja. Raja Prabu Aji Pramosa sangat bingung jika hendak menangkap rakyat yang tidak punya salah itu harus ada buktinya. Akhire raja mengundang Patih Hulubalang, Senapati  dan pejabat utama kerajaan tujuannya mencari cara untuk mengatasi Resi sakti tersebut. Setelah mendapat saran dari pajabat kerajaan, raja langsung memutuskan : Untuk  menjaga keselamatan kerajaan dan raja, Kyai Jamur harus diusir dari kerajaan atau dibunuh sekalian, seperti itulah titah sang raja.

Berita rencana raja tersebut cepat tersebar, akhirnya juga terdengar oleh Kyai Jamur. Beliau memutuskan sebelum utusan kerajaan tiba, beliau harus mendahului meninggalkan negeri itu.


Mendengar bahwa Kyai Jamur sudah tidak ada di tempatnya, sang Aji Pramosa tambah jengkel, Raja terus memberikan perintah kepada “punggawa” kerajaan agar mengejar dan menangkap Kyai Jamur, Resi harus dipenjara. Sebagai alasan Raja, Resi dianggap salah karena pergi tanpa izin kepada raja. Sang Resi berjalan terus sepanjang pantai laut selatan yang akhirnya sampai pada tempat yang bernama Cilacap, Resi merasa bahwa  Cilacap sepertinya daerah yang aman sebagai persembunyian dari pengawasannya Raja.

Raja tidak pernah berhenti mencari dan mengejar Sang Resi pokoknya harus tertangkap. Sesudah dicari kemana-mana akhirnya Raja menemukan persembunyian Resi. Aji Pramosa dan pasukannya sampai ketika waktu  Resi bertapa, mengetahui Resi sedang bertapa tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Sang Resi langsung di tangkap terus dibunuh. Tapi karena Sang Resi adalah orang sakti mandraguna jasadnya menghilang (moksa, .Jawa). Raja menjadi heran bercampur ketakutan. Belum hilang ketakutannya, Raja dibuat kaget lagi dengan adanya suara gemuruh angin rebut di tengah laut.

Aji Pramosa berusaha tetap tenang menghadapi berbagai peristiwa yang mengerikan itu. Suara gemuruh dan anginpun reda, namun pada saat yang sama datanglah seekor naga besar mendesis-desis seolah-olah hendak melahap Aji Pramosa. Gelombang laut menjadi besar bergulung-gulung, hingga banyak penyu (kura-kura) menepi ke tepi pantai. Pantai itu dikemudian hari disebut Pantai Telur Penyu. Dengan sigapnya sang Aji Pramosa segera melepaskan anak panahnya, ternyata tepat mengenai sasaran, perut nagapun robek terkena panah dan naga hilang tergulung ombak.

Rupanya naga tadi jelmaan dari seorang putri cantik yang muncul dengan tiba-tiba sambil berlarian di atas gulungan ombak dari arah timur pulau Nusakambangan. Sang putri ayu menghampiri Aji Pramosa sembari mengucapkan terima kasih karena berkat panahnya ia bisa menjelma kembali menjadi manusia. Sebagai rasa terima kasih, putri cantik tadi menghaturkan bunga Wijayakusuma kepada sang Aji Pramosa. Sang putri mengatakan “Kembang Wijayakusuma tidak mungkin bisa diperoleh dari alam biasa, barang siapa memiliki kembang itu bakal menurunkan raja-raja yang berkuasa di tanah Jawa”.

Selanjutnya putri cantik memperkenalkan diri, namanya Dewi Wasowati. la berpesan, kelak pulau ini akan bernama Nusa Kembangan. Nusa artinya pulau dan Kembangan artinya bunga. Seiring pergantian jaman, nama Nusa Kembangan akhirnya berubah menjadi Nusakambangan. Prabu Aji Pramosa sangat girang hatinya menerima hadiah kembang itu, kemudian dengan tergesa-gesa ia mengayuh dayungnya untuk kembali menuju daratan Cilacap, tetapi karena terlalu gugup dan kurang hati-hati, kembang itu jatuh ke laut dan hilang tergulung ombak, dengan sangat menyesal sang Aji Pramosa pulang tanpa membawa kembang.


Kemudian bunga itu jatuh dengan sendirinya ke dalam kendaga yang sudah dipersiapkan. Selanjutnya kembang tersebut dibawa para utusan ke Kraton untuk dihaturkan ke Sri Susuhunan / Sri Sultan. Penyerahan itu pun dilakukan dengan upacara tertentu, konon kembang itu dibuat sebagai rujak dan disantap raja yang hendak dinobatkan, dengan  demikian raja dianggap syah dan dapat mewariskan tahta kerajaan kepada anak cucu serta keturunannya.

Mitos tentang kembang Wijayakusuma ini sangat berpengaruh pada kehidupan nelayan di pantai selatan. Ada sejenis ikan yang mereka keramatkan yaitu ikan Dawah (dawah artinya jatuh). Ikan ini dianggap jelmaan dari daun pohon Wijayakusuma yang berjatuhan di laut. Para nelayan itu sangat berpantang memakan ikan Dawah, mereka takut mendapat bencana atau malapetaka. Umumnya mereka menolak rezeki Tuhan yang satu ini padahal dagingnya empuk dan rasanya lezat. Pengaruh Mitos ini juga melahirkan upacara budaya sedekah laut yang dilaksanakan setiap bulan Sura, mereka melarung rezekinya ke laut pantai selatan.   

Popular Posts

HUBUNGI WHATSAPP