www.kicokro.my.id

Tampilkan postingan dengan label SUPRANATURAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SUPRANATURAL. Tampilkan semua postingan

Ajian Pedhot Sih Pemutus Hubungan Cinta Terlarang / Perselingkuhan

 

Dewasa ini banyak kaum ahli metafisika/pakar Supranatural yang menyediakan jasa keparanormalan atau kegaiban, kini tak sulit untuk mendapatkan apa yang namanya Ilmu Pelet, pengeretan, gemdham sukma dll. Gunanya tentunya kita sudah tahu, untuk memikat lawan jenis.

Pelet memelet sudah ada sejak zaman dahulu, mantra-aji atau tatacaranya pun beraneka ragam. Karena khasiatnya yang hebat, orang yang kena sawab ilmu ini bisa menjadi linglung dan merasakan kasmaran atau rindu yang dasyat. Jika tidak ditemui/dikawini oleh orang yang memelet, maka yang bersangkutan (obyek/ sasaran) bisa mabuk kepayang, linglung, bahkan bisa jadi lupa ingatan, stress atau bahkan bisa menjadi gila.

Tapi kalau dahulu yang namanya pelet  hanya diajarkan atau diwariskan kepada orang yang sudah membulatkan tekadnya mencari pasangan untuk berumah tangga. Namun dizaman sekarang seiring gampangnya mendapatkan ilmu tersebut, pikiran orang pun jadi suka menggampangkan pula, termasuk resiko/akibatnya. Kini banyak anak muda yang membekali dirinya dengan ilmu pelet untuk menundukkan lawan jenis yang diinginkannya hanya untuk sekedar main-main, hanya untuk menuruti hawa nafsunya semata.

Coba bayangkan jika saudara, putra-putri atau bahkan suami/istri Anda terkena pengaruh ilmu pellet yang disalahgunakan ini. Rumah tangga bisa hancur karena ulah pihak ketiga. Ketika usaha atau iktiar secara lahiriah dan rasional mengalami kebuntuhan untuk memutuskan tali kasih yang tidak wajar tersebut, maka dalam khasanah ilmu spiritual terdapat cara alternative dengan ilmu yang bernama, Mantra  Ajian Pedhot Sih”

Mantranya sbb:
Bismillahirohmaanirohim,
Tiada masa lalu yang diingat saya,
Hanyalah kebencian yang terlukiskan di dalam fikirannya si jabang bayine (…….dengan fikirannya si jabang bayine……),
Wolak-walik ing jantung,
Atine, detik ini, jam ini, bulan ini, tahun ini, thotok kerot menghantuimu,
Sehingga Allah Swt memutuskan hubungan percintaan terlarangmu,
Kakang kawah adhi ari-ari menutup jalan cintamu,
Putus tanpa sebab atau dengan sebab, karena Allah (baca 113 kali).
Lalu lanjutkan membaca Qs Al Fill:
 Bismillahirohmaanirohim,
Alam Taro Kaifa Fa’ala,
Robbuka Bi’ash’Habil Fil,
Alam yaj’al Kaidanahum Fi Tadh’lil,
Wa Arsala ‘Alaihim Thoiron Ababil,
Tarmihim Bi’hijaratim Ming Sijjil,
Fa Ja’alahum Ka’as Fim Ma’kul.
( saat “Tarmihim” di ulang 7 kali), baru diteruskan “Bihijarotim min sijjil faja’alahum ka’asfim ma’kul (113 kali).

Syaratnya: Puasa 3 hari
Ritualnya:

Apabila mengetahui weton yang dituju sebaiknya puasa dimulai pada wetonnya si obyek/ yang dituju. Siapkan fotho atau pakaian yang dituju, bacalah mantra di atas setiap tengah malam selama menjalankan puasa.

Setelah selesai membaca mantra “kibas-kibaskan” pakaian yang dituju atau tiuplah fotho sebanyak 7 kali. Insyaallah bila kita menata niat baik, iklhas, khusuk dan istiqomah/rutin dalam menjalankannya, niscaya dalam waktu yang tidak terlalu lama, hubungan perselingkuhan atau hubungan gelap tersebut akan porak poranda, berakhir atau putus. Dan segera sadar kembali kepada suami/istrui/kekasih yang syah. Kembali menyayangi, mencintai keluarga dengan seutuh cintanya.

Syakinah, mawaddah, warahmah atas Ridho Allah Swt. Aaminn…
Bagi yang ingin menguasahi ilmu ini, atau ingin meminta bantuan untuk memutuskan suatu hubungan terlarang, silahkan hubungi Ki Cokro ST di No. HP: 08159852189


Kereta Singa Barong Simbol Tiga Budaya Agama dan Bangsa

 

Kereta Singa Barong merupakan salah satu ikon budaya Cirebon yang menyimpan kebanggaan di balik pembuatannya. Kereta yang dibuat sejak abad ke-15 tersebut, menjadi kebanggaan lantaran karya asli penduduk Cirebon.
"Hampir semua kereta di keraton-keraton Indonesia itu buatan Eropa. Nah, Kereta Singa Barong ini dibuat oleh Panembahan Losari, cicit dari Sunan Gunung Jati. Sedangkan ahli ukirnya berasal dari Kaliwulu," jelas Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat.
Menurutnya, kereta ini sejatinya menggambarkan tiga makhluk, yakni Gajah, Burung (Paksi), dan Naga. Ia juga mengatakan, burung menggambarkan budaya Timur Tengah dalam hal ini agama Islam. Sementara gajah menggambarkan India atau agama Hindu. Sedangkan Naga menggambarkan Tiongkok atau Budha.
Sehingga menurutnya, kereta ini menggambarkan tiga budaya dari tiga agama dan bangsa yang berbeda. Konon, kata dia, lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila, salah satunya mengambil nilai kearifan lokal dari gambaran Kereta Singa Barong tersebut.
"Secara khusus, kereta ini menggambarkan bagaimana bentuk masyarakat Cirebon yang berasal dari beragam bangsa dan agama. Macam-macam budaya itu muncul sebagai efek dari perdagangan luar negeri yang pernah berlangsung di Cirebon dulu," katanya.



Kawruh Seks Raja-raja Jawa

 

Ilmu atau kawruh tentang seks memang selalu manarik perhatian. Bahkan lebih menarik dari cuwitan galau yang akhir-akhir ini ini memenuhi pemberitaan media. Namun kita harus akui, sebagai masyarakat dengan adat ketimuran, seks adalah hal yang tabu untuk diperbincangkan. Ya, kesan wagu (tabu) memang melekat dengan kata seks ini.

Kita terkadang gamang untuk berbicara tentang seks, apalagi sampai menulisnya secara lugas, gamblang dan terbuka. Kita khawatir dituding tak tahu diri, atau sengaja menyebarluaskan pemahaman tentang seks, yang oleh sebagian masyarakat dipandang sebagai sesuatu yang tabu. 

Dalam banyak literasi, pengertian seks jika dibatasi alat kelamin semata, tentu sangat dangkal. Karena hal ini menafikan kenyataan-kenyataan fisiologis sebagaimana ditelanjangi dalam buku-buku ilmiah kedokteran. Pun sebaliknya, jika hanya diartikan sebagai persetubuhan saja, tentu juga naif, karena akan mengesampingkan realita cumbu rayu, ransangan-ragsangan pada daerah erotis, mantra-mantra seksual dan cinta kasih.
  
Serat Centhini bisa jadi adalah satu-satunya manuskrip kuno karya asli orang Indonesia yang secara gamblang menguraikan tentang berbagai aspek dan dimensi seks. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Serat Centhini adalah manuskrip Kamasutra versi Jawa. Manuskrip ini mulai ditulis pada Januari 1814 oleh tim pengarang Keraton Surakarta yang terdiri dari Adipati Anom Amengkunegara atau Paku Buwana V, Ki Ngabehi Rangga Sutrasna, Ki Ngabehi Yasadipura II dan Ki Ngabehi Sastradipura, pada masa pemerintahan Paku Buwana IV (1788-1820).

Ya,tidak berlebihan kiranya jika kita membincang perilaku sosial dan budaya Jawa, khususnya urusan seks, sepertinya tidak lengkap bila tidak menyimak Serat Centhini terlebih dulu. Di jamannya, Serat Centhini termasuk dalam karya tulisan yang berani dan mengungkap persoalan secara gamblang serta apa adanya. Menariknya lagi, penulis atau penggubahnya adalah seorang bangsawan.

Para pemikir atau intelektual Jawa di jamannya dulu memang sudah menanam keyakinan bahwa seks merupakan salah satu bagian dari budaya kehidupan manusia. Seks adalah sesuatu yang logis dan alamiah. Sejak dulu juga, para pemikir Jawa sudah memandang dan berpendapat bahwa seks atau seni bercinta sebagai bagian dari harmoni kehidupan manusia yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Karena itulah banyak para pemikir atau intelektual Jawa di masa lalu yang menulis 'beragam pengetahuan dan persoalan' tentang seks. Serat Centhini merupakan salah satu di antaranya. Kemudian pemberian pemahaman tentang seks juga terdapat di dalam Serat Gatoloco dan Serat Dharmogandhul.

Persoalan seks yang sangat pribadi pun diungkap secara terbuka, terang benderan jika kita meminjam bahasa politisi jaman sekarang, dan tanpa basa-basi di dalam Serat Centhini. Hebatnya lagi, persoalan seks yang diungkap tak sebatas yang ada pada kehidupan masyarakat kecil atau rakyat jelata, tapi juga yang terjadi di lingkungan istana atau para bangsawan di keraton Jawa.

Dalam Serat Centhini masalah seksual menjadi tema sentral yang diungkap secara verbal tanpa tedeng aling aling, paradoksal dengan etika sosial Jawa yang dikenal puritan dan ortodoks. Masalah seks dibicarakan dalam berbagai versi dan kasus, seperti, menyangkut pengertian, sifat, kedudukan, fungsi, etika dan tata cara bermain seks, dan gaya persetubuhan.

Seks juga dibicarakan dalam banyak varian lainnya, misalnya, hubungan seks dengan perkawinan, seks dengan kesetiaan suami-istri, seks dengan pengobatan, seks dengan pemerkosaan, seks dengan pelampiasan hasrat-hasrat hedonis, seks dengan asal usul kehidupan dan ilmu kasunyatan.

Seks sebagai ekspresi pelampiasan hasrat-hasrat hedonis, dalam pandangan Jawa, berlaku agregrasi atau bentuk hubungan antara kecantikan perempuan dengan kewibawaan lelaki yang bersifat politis. Kecantikan juga dipandang sebagai lelangen, bahkan berlaku asumsi, jika raja semakin banyak memiliki istri yang cantik, maka semakin meningkatlah derajat kewibawaannya.

Hal ini juga tersurat dalam Serat Cemporet karya R. Ngabehi Ranggawarsita, pujangga keraton Surakarta pada masa pemerintahan Paku Buwana V hingga Paku Buwana IX, disebutkan bahwa bagi bangsawan luhur, perempuan merupakan lelangen (hiasan), tanpa memilih atau melihat-lihat dari mana asal usul silsilah keturunannya, asalkan perempuan itu memiliki kecantikan yang hebat, ia akan dapat menambah kawibawan (kewibawaan) lelaki.

Aspek penampilan luar (fisik) yang bersifat genital pada tubuh perempuan juga menjadi fokus perhatian yang lebih selain penampilan nonfisik. Hal seperti ini juga tampak pada budaya katuranggan yang sedemikian konkret mengapresiasi wacana ketubuhan.


Budaya katuranggan, misalnya, bisa ditemukan dalam tradisi gemblak pada kultur warok Ponoragan. Gemblak adalah lelaki yang berperilaku layaknya seorang wanita yang lemah gemulai (baca: transgender) dan menjadi patner sang warok dalam bercinta.

Adapun aspek nonfisik menjadi fokus perhatian, misalnya, dalam urusan memilih istri. Dalam pandangan Jawa, istri yang baik harus berwatak;

Sama, memiliki welas asih kepada sesama;

Beda, mampu memilah apa yang lebih penting yang hendak dilakukan;
Dana, suka memberi kesenangan kepada sesama;

Dhendha, mampu menilai yang baik dan buruk atas dasar empan-empan (tempat, keadaan, situasi, dan kondisi);

Guna, mengerti wewenang dan kewajiban terhadap seluruh kegiatan yang berhubungan dengan perempuan;

Busana, mengetahui dan menerapkan semua yang dimiliki sesuai maksud dan situasi;

Asana, bisa menata dan memelihara rumah agar tampak baik dan menyenangkan hati;

Sawandana, mampu menyelaraskan keinginan lahir dan batin, dalam meladeni suami seperti meladeni diri sendiri;

Saekapraya, mampu menyelaraskan keinginan diri sendiri dengan keinginan suaminya; dan
Sajiwa, memiliki kesetiaan kepada suami seperti kesetiaan kepada dirinya sendiri. Terminologi lain yang juga dipakai ialah bobot, bibit dan bebet.

Ajaran bercinta dalam pandangan Jawa meliputi;
Asmaranala atau sengseming nala, dua insan yang bercinta hendaknya dilandasi oleh cinta kasih yang tumbuh dalam hati;

Asmaratura atau sengseming pandulu, dua insan yang becinta hendaknya dilandasi oleh rasa saling ketertarikan kepada kecantikan dan ketampanan pasangannya;

Asmaraturida atau sengseming pamirengan, dua insan yang bercinta hendaknya larut dalam sendagurau mesra;

Asamaradana atau sengseming pocapan, bahwa syair, puisi dan kata-kata indah -pujian terhadap kekasihnya- hendaknya dilantunkan oleh sepasang kekasih untuk menumbuhkan cinta kasih agar semakin bergelora;

Asmaratantra atau sengseming pangarasan, bahwa ciuman merupakan mantik birahi yang dahsyat, karenanya sepasang kekasih yang bercinta hendaknya mempelajari teknik-teknik berciuman;

Asmaragama atau sengseming salulut, bahwa puncak dari karonsih (bercinta) adalah salulut, yaitu masuknya penis kedalam vagina, untuk itu perlu dipastikan kesiapan masing-masing agar mampu memberikan kenikmatan paripurna.

Dalam kitab klasik Jawa, unsur laki-laki dipandang sebagai upaya atau alat mencapai kebenaran yang agung. Sedang wanita merupakan prajna atau kemahiran yang membebaskan. Oleh karena itu persetubuhan dipahami sebagai bakti seorang istri kepada suaminya, dan merupakan kewajiban seorang suami terhadap istrinya.


Puncak ajaran serta penghayatan seks dalam tradisi Jawa, sebagaimana tersebut dalam Serat Centhini pupuh asmaradana, untuk mengetahui asal usul kamanusiaan dan tujuan kesempurnaan hidup manusia.

Hal yang sama juga terdapat dalam Serat Gatholoco, bahwa seks merupakan penyatuan antara dua oposisi yang sebenarnya adalah pasangan binernya, baik pasangan dalam mikrokosmos, makromosmos maupun metakosmos. Semua pasangan biner menyatu dalam satu kesatuan yang harmonis. Karenanya, yang laki-laki dan yang perempuan akhirnya harus melebur manjadi satu kesatuan. Inilah harmoni total.

Akhirnya, tidak bisa dipungkiri bahwa Serat Centhini adalah manuskrip Kamasutra versi Jawa, juga paling lengkap karena mengupas seks dari berbagai aspek dan dimesinya. Bahkan, tidak berlebihan jika kita katakan bahwa Serat Centhini merupakan pelajaran seks dari Raja Jawa.  


Keris Pusaka Sakti Singo Barong

 

Pusaka keris bertuah Tejo Kinurung ini tak begitu terkenal didunia manusia, tetapi jika kita ditelusuri lewat dunia spiritual, keris bertuah ini sangat terkenal didunia astral.  Bahkan, konon,  banyak mahluk-mahluk halus yang ingin mendampingi keris pusaka tersebut 

kemanapun perginya. Keris ini memang asli warisan dari Kerajaan Kuno Padjajaran. Pembuatan  pusaka keris ampuh ini disinyalir sejak era Kerajaan Padjajaran, yakni, abad ke 13. Dengan adanya hal tersebut, pantaslah  apabila keris pusaka Tejo Kinurung  ini tidak begitu terkenal didunia manusia  karena usia pembuatannya yang terbilang cukup  lama atau kuno. 

Sementara menurut pemilik pusaka bertuah Tejo Kinurung, Gus Cokro ST, seorang tokoh spiritual Indonesia, menjelaskan bahwa, hal  mengenai sisi dunia gaib-nya, pusaka keris bertuah ini mempunyai kekuatan tingkat tinggi  dan jika digunakan akan memiliki pengaruh yang sangat ekstra cepat, kuat  dan singkat. “Pusaka keris Tejo Kinurung ini memiliki kekuatan  luar biasa karena memiliki pengaruhi oleh satu sosok mahluk gaib yang selalu mendampinginya setiap saat, yaitu mahluk yang berwujud seorang pria tua,” kata Gus Cokro STmenjelaskan perihal Pusaka Keris Tejo Kinurung ini.

Pusaka Keris Tejo Kinurung, memiliki ciri-ciri: Dapur/bentuk: Tilam Upih, Pamor/Lambang/Filosofi: Tejo Kinurung. Tangguh/Era Pembuatan//Estimasi: Kerajaan Pajajaran, tahun pembuatan abad 13. Bilah Pusaka: Lurus, panjang seluruh keris 40 Cm.



Menurut Gus Cokro ST, Keris Pusaka Ampuh Tejo Kinurung beliau peroleh pada tahun 1999 . Pada saat itu ia sengaja  melakukan perjalanan spiritualnya, di petilasan Ciung Wanara. Menurutnya di tempat itulah Gus Cokro ST melakukan laku spiritual selama tiga hari tiga malam. Pada hari terakhir ritualnya itulah Gus Cokro ST mendapatkan pusaka Keris Tejo Kinurung. Keris Tejo Kinurung memiliki gaya Warangka Gayaman Surakarta, Kayu Timoho dan pusaka tersebut tergolong kuno atau sepuh.

Berdasarkan pendeteksian secara spiritual, Keris Pusaka yang saat ini berada di tangannya memiliki yoni/ tuah/manfaat: Memiliki tuah yang sangat baik untuk semua orang, terutama pegawai negeri, pejabat Negara atau mereka yang bekerja pada perusahaan bisa juga sebagai pemimpin orang banyak, juga tuah pusaka keris ini dapat menunjang karier pemiliknya untuk sebuah jabatan yang langgeng. Oleh sebab itu, banyak pejabat sekarang yang memiliki keris berpamor Tejo Kinurung.

Kini Keris Keris Tejo Kinurung menjadi koleksi pribadi Gus Cokro ST, dan siap dimaharkan kepada siosok pribadi yang cocok dan terpilih.

Menyimak Kehebatan Tuah Keris Pusaka Tejo Kinurung

 

Pusaka keris bertuah Tejo Kinurung ini tak begitu terkenal didunia manusia, tetapi jika kita ditelusuri lewat dunia spiritual, keris bertuah ini sangat terkenal didunia astral.  Bahkan, konon,  banyak mahluk-mahluk halus yang ingin mendampingi keris pusaka tersebut 

kemanapun perginya. Keris ini memang asli warisan dari Kerajaan Kuno Padjajaran. Pembuatan  pusaka keris ampuh ini disinyalir sejak era Kerajaan Padjajaran, yakni, abad ke 13. Dengan adanya hal tersebut, pantaslah  apabila keris pusaka Tejo Kinurung  ini tidak begitu terkenal didunia manusia  karena usia pembuatannya yang terbilang cukup  lama atau kuno. 

Sementara menurut pemilik pusaka bertuah Tejo Kinurung, Gus Cokro ST, seorang tokoh spiritual Indonesia, menjelaskan bahwa, hal  mengenai sisi dunia gaib-nya, pusaka keris bertuah ini mempunyai kekuatan tingkat tinggi  dan jika digunakan akan memiliki pengaruh yang sangat ekstra cepat, kuat  dan singkat. “Pusaka keris Tejo Kinurung ini memiliki kekuatan  luar biasa karena memiliki pengaruhi oleh satu sosok mahluk gaib yang selalu mendampinginya setiap saat, yaitu mahluk yang berwujud seorang pria tua,” kata Gus Cokro STmenjelaskan perihal Pusaka Keris Tejo Kinurung ini.

Pusaka Keris Tejo Kinurung, memiliki ciri-ciri: Dapur/bentuk: Tilam Upih, Pamor/Lambang/Filosofi: Tejo Kinurung. Tangguh/Era Pembuatan//Estimasi: Kerajaan Pajajaran, tahun pembuatan abad 13. Bilah Pusaka: Lurus, panjang seluruh keris 40 Cm.



Menurut Gus Cokro ST, Keris Pusaka Ampuh Tejo Kinurung beliau peroleh pada tahun 1999 . Pada saat itu ia sengaja  melakukan perjalanan spiritualnya, di petilasan Ciung Wanara. Menurutnya di tempat itulah Gus Cokro ST melakukan laku spiritual selama tiga hari tiga malam. Pada hari terakhir ritualnya itulah Gus Cokro ST mendapatkan pusaka Keris Tejo Kinurung. Keris Tejo Kinurung memiliki gaya Warangka Gayaman Surakarta, Kayu Timoho dan pusaka tersebut tergolong kuno atau sepuh.

Berdasarkan pendeteksian secara spiritual, Keris Pusaka yang saat ini berada di tangannya memiliki yoni/ tuah/manfaat: Memiliki tuah yang sangat baik untuk semua orang, terutama pegawai negeri, pejabat Negara atau mereka yang bekerja pada perusahaan bisa juga sebagai pemimpin orang banyak, juga tuah pusaka keris ini dapat menunjang karier pemiliknya untuk sebuah jabatan yang langgeng. Oleh sebab itu, banyak pejabat sekarang yang memiliki keris berpamor Tejo Kinurung.

Kini Keris Keris Tejo Kinurung menjadi koleksi pribadi Gus Cokro ST, dan siap dimaharkan kepada siosok pribadi yang cocok dan terpilih.

Popular Posts

HUBUNGI WHATSAPP